Habib Munzir Mbah Priok menjadi dua entitas yang tak terpisahkan dalam memori kolektif umat Islam di Indonesia, khususnya saat terjadi krisis sosial di Jakarta Utara pada tahun 2010 silam. Kala itu, ketegangan memuncak di sekitar areal pemakaman Syahid Sayyid Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Priok. Di tengah dentuman konflik dan air mata, sosok al-Maghfurlah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa rahimahullah hadir sebagai penyejuk, membawa risalah kedamaian yang bersumber dari kearifan nubuwah.
- Mengenal Qubbah Haddad: Menelusuri Nasab dan Perjuangan Mbah Priok
- Kronologi Konflik 2010 dan Urgensi Tanggapan Habib Munzir
- Landasan Teologis: Mengapa Makam Shalihin Harus Dijaga?
- 7 Poin Krusial Diplomasi Damai Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa
- Kemenangan Diplomasi: Kabar Gembira dari Pendopo Jakarta
- Hikmah untuk Generasi Mendatang
Mengenal Qubbah Haddad: Menelusuri Nasab dan Perjuangan Mbah Priok
Qubbah Haddad bukan sekadar bangunan berkubah di sudut pelabuhan Tanjung Priok. Tempat ini merupakan persemayaman abadi Syahid Sayyid Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad, seorang ulama besar yang nasabnya tersambung mulia kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah pejuang dakwah yang membawa sinar Islam di tanah Betawi pada abad ke-18.
Keberadaan makam ini memiliki signifikansi luar biasa:
- Simbol Spiritual: Menjadi pusat tawasul dan tabarruk bagi ribuan peziarah dari berbagai belahan dunia.
- Benteng Sejarah: Merupakan bukti perlawanan kultural terhadap penjajahan, di mana ulama menjadi pilar utama penjaga moral masyarakat.
- Identitas Pelabuhan: Bagi warga Priok, makam ini adalah “jangkar spiritual” yang menjaga keberkahan wilayah pelabuhan Jakarta.
Penyematan gelar “Syahid” pada beliau merujuk pada peristiwa wafatnya dalam perjalanan dakwah yang penuh rintangan. Bagi para Muhibbin (pencinta) Ahlul Bait, menjaga makam beliau adalah bagian dari memuliakan keturunan Rasulullah SAW.
Kronologi Konflik 2010 dan Urgensi Tanggapan Habib Munzir
Pada tahun 2010, rencana perluasan lahan pelabuhan oleh pemerintah memicu wacana penggusuran makam. Sontak, hal ini memicu gelombang perlawanan hebat. Di sinilah posisi Habib Munzir Mbah Priok menjadi sangat krusial. Sebagai pendiri Majelis Rasulullah SAW dengan jutaan jamaah, setiap arahan beliau dinanti sebagai kompas moral.
Umat saat itu berada di persimpangan jalan: mengikuti amarah yang meledak atau mencari jalur solusi yang bermartabat. Habib Munzir, dengan kelembutan yang menjadi ciri khasnya, tidak hanya hadir sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai diplomat ulung yang menjembatani aspirasi akar rumput dengan pemegang kebijakan.
Landasan Teologis: Mengapa Makam Shalihin Harus Dijaga?
Dalam berbagai tausiyahnya, Habib Munzir rahimahullah seringkali mengutip ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai landasan menyikapi polemik ini. Salah satunya adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiya ayat 105:
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.”
Beliau menekankan bahwa tempat-tempat di mana para wali Allah bersemayam seringkali mendapatkan perlindungan khusus dari Sang Khalik. Beliau memberikan contoh-contoh nyata:
- Makam para ulama yang tetap utuh meski diterjang Tsunami Aceh.
- Makam Habib Nuh Al-Habsyi di Singapura yang tak bisa dipindahkan meski untuk proyek pembangunan modern.
- Makam Al-Hawi di Condet yang tetap menjadi oase di tengah padatnya Jakarta.
Namun, dengan kerendahan hati, beliau juga mengingatkan bahwa jika Allah menghendaki sebuah makam berpindah demi kemaslahatan yang lebih besar—sebagaimana pindahnya beberapa makam Habaib di masa lalu—maka sebagai hamba, kita harus menerimanya dengan tawakal. Keseimbangan antara ikhtiar (usaha menjaga) dan ridho (menerima takdir) inilah yang beliau tanamkan kepada jamaah.
7 Poin Krusial Diplomasi Damai Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa
Agar tidak terjadi pertumpahan darah yang lebih luas, Habib Munzir menetapkan langkah-langkah strategis yang menjadi panduan bagi seluruh jamaah Majelis Rasulullah SAW:
- Mengutamakan Musyawarah: Beliau melarang keras tindakan anarkis. Aspirasi harus disampaikan dengan akhlakul karimah.
- Inisiatif Diplomasi Langsung: Habib Munzir menjalin komunikasi intensif dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov DKI Jakarta saat itu, Bapak Muhayat, untuk mencari jalan tengah.
- Penghargaan terhadap Perbedaan: Beliau tidak menyalahkan kelompok yang memilih aksi lapangan yang lebih tegas, namun beliau sendiri memilih jalur negosiasi formal.
- Tawakal Mutlak: Beliau menekankan bahwa setelah usaha maksimal dilakukan, hasil akhir adalah wewenang Allah SWT.
- Fokus pada Kemaslahatan Kota: Beliau menginginkan Jakarta tetap damai dan kondusif bagi kegiatan dakwah secara luas.
- Larangan Pelibatan Massa Liar: Instruksi beliau jelas; jamaah tidak boleh terjun ke kerusuhan yang tidak terukur risikonya.
- Empati terhadap Korban: Beliau sangat menyayangkan jatuhnya korban dari pihak masyarakat maupun aparat, menyebut bahwa kekerasan adalah kerugian bagi bangsa.
Kemenangan Diplomasi: Kabar Gembira dari Pendopo Jakarta
Setelah komunikasi yang sangat intens, upaya Habib Munzir Mbah Priok membuahkan hasil manis. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi untuk menangguhkan dan membatalkan rencana pembongkaran makam Qubbah Haddad.
Bapak Muhayat selaku perwakilan pemerintah memberikan jaminan langsung kepada Habib Munzir bahwa Makam Mbah Priok akan tetap dipertahankan dan diakui sebagai situs religi resmi. Kemenangan ini bukanlah kemenangan fisik yang penuh darah, melainkan kemenangan akhlak dan diplomasi yang elegan.
Hikmah untuk Generasi Mendatang
Peristiwa ini meninggalkan pelajaran berharga bagi kita semua. Peran ulama bukan hanya di atas mimbar, melainkan juga sebagai pelindung umat di saat krisis. Kebijaksanaan Habib Munzir mengajarkan kita bahwa:
- Kekuatan doa dan kedekatan kepada Allah adalah modal utama diplomasi.
- Menjaga warisan sejarah adalah bagian dari menjaga iman.
- Persatuan umat (Ukhuwah Islamiyah) jauh lebih mahal harganya daripada ego kelompok.
Hingga hari ini, peziarah terus mengalir ke Qubbah Haddad. Nama Mbah Priok tetap harum, dan jasa Habib Munzir dalam menyelamatkan situs tersebut akan selalu dikenang sebagai tinta emas dalam sejarah dakwah Islam di Indonesia.
Mari kita teruskan perjuangan ini dengan menyebarkan pesan damai dan cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW serta para penerusnya. Semoga Allah SWT senantiasa merahmati guru kita, Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, dan memuliakan kedudukan Mbah Priok di sisi-Nya. Aamiin Ya Robbal Alamin.
Referensi & Sumber Utama: Artikel ini disusun dengan merujuk pada catatan resmi dan pernyataan langsung al-Maghfurlah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa yang dimuat dalam arsip digital: Tanggapan Hb Munzir atas Penggusuran Makam Gubah Haddad – Majelis Rasulullah SAW.